Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 September 2015

Inilah Mengapa Al-Quran Menyuruh Ibu Susui Bayi Sampai Dua Tahun

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Al Qur’an, 31:14)

Dunia Wanita - AIR susu ibu adalah suatu campuran ciptaan Allah yang luar biasa dan tak tertandingi sebagai sumber makanan terbaik bagi bayi yang baru lahir, dan sebagai zat yang meningkatkan kekebalan tubuhnya terhadap penyakit. Bahkan makanan bayi yang dibuat dengan teknologi masa kini tak mampu menggantikan sumber makanan yang menakjubkan ini.

Setiap hari ditemukan satu manfaat baru air susu ibu bagi bayi. Salah satu fakta yang ditemukan ilmu pengetahuan tentang air susu ibu adalah bahwa menyusui bayi selama dua tahun setelah kelahiran sungguh amat bermanfaat. (Rex D. Russell, Design in Infant Nutrition, http:// www. icr.org/pubs/imp-259.htm)

Allah memberitahu kita informasi penting ini sekitar 14 abad yang lalu, yang hanya diketahui melalui ilmu pengetahuan baru-baru ini, dalam ayat-Nya “…menyapihnya dalam dua tahun…”.

ASI mengandung zat-zat gizi penting sebagai berikut...

*Karbohidrat
Karbohidrat utama dari ASI adalah laktosa (gula susu) yang sesuai dengna kondisi biologis atau sistem pencernaan bayi. Laktosa berperan penting sebagai sumber energi. Laktosa mudah diurai menjadi glukosa dan galaktosa dengan bantuan enzim laktase yang sudah ada dalam mukosa saluran cerna bayi sejak lahir.

Ya, pada pencernaan bayi terdapat enzim yang mencerna laktosa tersebut. Glukosa dan galaktosa berperan dalam perkembangan sistem syaraf dan pertumbuhan otak, mielinisasi dan pematanagn otak agar otak tumbuh optimal. Selain itu, zat gizi ini juga membantu penyerapan kalsium dan magnesium di masa pertumbuhan bayi. Bahkan, membantu pertumbuhan bakteri usus yang baik (lactobacillus bifidus) dan menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya

*Protein
Kandungan protein ASI seimbang dengan kebutuhan bayi. Pada ASI, jenis proteinnya adalah whey yang memiliki ukuran molekul lebih kecil. Protein jenis whey ini mempunyai sifat mudah dicerna. Komponen dasar dari protein adalah asam amino yang berfungsi sebagai pembentuk struktur otak.

Protein berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan sistem kekebalan tubuh dan untuk pertumbuhan otak serta menyempurnakan fungsi pencernaan. Protein juga memberi lapisan pada dinding usus bayi baru lahir yang masih permeabel terhadap protein, serta berperan sebagai proteksi terhadap berbagai risiko infeksi bakteri/virus yang dapat masuk melalui pencernaan. Ya, protein dalam ASI dapat membantu menghancurkan bakteri dan melindungi bayi dari infeksi.

*Lemak
Kandungan zat gizi terbesar di dalam ASI adalah lemak. Lemak merupakan sumber kalori atau energi utama yang terdapat dalam ASI. Kadar lemak ASI berubah-ubah secara otomatis sesuai dengan kebutuhan gizi bayi dari hari ke hari. Lemak dapat diolah, dicerna dan diserap baik karena dalam ASI sekaligus terdapat enzim lipase yang bertugas membantu proses metabolisme lemak.

Ada sekitar 200 jenis asam lemak, yakni 80 persen asam lemak tak jenuh ganda, antara lain asam linolenat omega 3, EPA dan DHA serta asam linoleat omega-6 ARA yang berperan penting dalam tumbuh-kembang otak, pertumbuhan sel-sel otak, mielinisasi jaringan saraf, serta ketajaman penglihatan. Lemak rantai panjang atau long chain poly unsaturated fatty acid (LC-PUFA) merupakan jenis lemak yang sangat diperlu kan dalam perkembangan otak bayi.

*VITAMIN DAN MINERAL
ASI mengandung vitamin dan mineral penting yang dibutuhkan bayi. Zat
gizi mikro penting itu antara lain vitamin A, vitamin C, vitamin D, zat besi, tiamin, riboflavin, kalsium, fosfor, fluor.

-Vitamin
Misalnya, vitamin D membantu bayi menggunakan kalsium dari ASI untuk tumbuh-kembang tulang.Vitamin K yang diperlukan untuk proses pembekuan darah terdapat dalam ASI dengan jumlah yang cukup dan mudah diserap.

-Zat Besi
Zat besi dibutuhkan untuk memproduksi hemoglobin, bagian dari sel-sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh, zat besi pun esensial untuk tumbuh-kembang otak bayi. Zat besi yang terkandung dalam ASI juga mudah diserap.

-Fluor
Fluor membantu membentuk gigi yang kuat dan mencegah gigi berlubang di kelak.

****

Jadi Sahabat Wanita, susui bayi Anda sendiri ekslusif sampai enam bulan, dan dihentikan pada usia 2 tahun. Katakan tidak pada susu formula.





Sumber : ummi-online.com

Selasa, 08 September 2015

"Andai Ibu Boleh Memilih"


Dunia Wanita - Berbicara tentang ibu, kita selalu terbayang tentang sosok pengorbanan seorang ibu yang telah melahirkan kita. Pengorbanan seorang ibu memang tak terhingga serta begitu tulus dan tak mengharapkan kembali. Begitu juga kasih sayangnya sepanjang masa bagaikan surya yang menyinari dunia.

Anakku
Bila ibu boleh memilih Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu, Maka ibu akan memilih mengandungmu ? Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah

Sembilan bulan nak
Engkau hidup di perut ibu Engkau ikut kemanapun ibu pergi Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan

Anakku
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu, Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu.

Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga.

Karena perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua.

Malaikat tersenyum
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air matadiantara peluh dan erangan rasa sakit, Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun.

Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia Saat itulah paling membahagiakan Segala sakit dan derita sirna melihat dirimu yang merah, Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan, Kalimat syahadat kebesaran Allah

Anakku
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah,atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu, Maka ibu memilih menyusuimu, Karenadengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga.

Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu, Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

Anakku
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu Tetapi anakku, Maafkan ibu, Maafkan ibu.

Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita, Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang. Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu Percayalah nak, Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu, Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana maka maafkanlah Ibu...




Sumber : sebarkanlah.com

Kamis, 03 September 2015

Bunda, Tas Sekolah Berat Bisa Ancam Kesehatan Anak


Dunia Wanita - Banyaknya buku pelajaran membuat banyak anak sekolah harus membawa tas besar dan berat. Kadang bisa kita lihat, lebih besar tas ketimbang ukuran tubuh mereka. Bahayakah tas yang berat bagi kesehatan anak? Jawabannya, iya.

"Sejak ransel digunakan setidaknya tahun 1998, kami telah melihat semakin besar dan lebih berat, dan tidak sebanding dengan ukuran anak-anak '," kata Dr Karen Jacobs, profesor klinis di Boston University dan juru bicara American Occupational Therapy Association (AOTA) , yang mensponsori hari kesadaran ransel sekolah. 

Jacobs mengatakan sekolah ramai dan ruang ganti sedikit tampaknya semakin melanggengkan fenomena tersebut.

Dilansir dari Time, sebuah studi pada tahun 2010 dari University of California, San Diego, menyimpulkan, "beban ransel bertanggung jawab untuk sejumlah besar nyeri punggung pada anak-anak." Penelitian yang sama mengatakan sepertiga penuh anak-anak berusia 11 sampai 14 laporan nyeri punggung. Penelitian lain dari tahun 2011 sampai pada kesimpulan yang sama.

"Anak-anak mengatakan 'kembali saya sakit, leher dan bahu saya sakit,'" kata Jacobs. "Sebuah ransel berat juga dapat berkontribusi untuk sakit kepala dan masalah berkonsentrasi di sekolah."

Seperti kerangka rumah, tulang belakang yang membuat tubuh kokoh anak Anda dan tegak. Menempatkan terlalu banyak berat badan pada frame ini sementara tubuh muda masih berkembang, dan itu bisa mengubah postur seorang anak, menekan tulang punggungnya, dan mengganggu pertumbuhan, kata Rob Danoff, seorang dokter pengobatan osteopathic dan dokter keluarga bersertifikat dengan Sistem Kesehatan Aria Philadelphia . "Mungkin juga berkontribusi untuk kembali masalah atau cedera ketika anak anda lebih tua," kata Danoff.

Bagaimana berat yang terlalu berat? "Sebagai aturan umum, penelitian menunjukkan ransel sebaiknya tidak lebih dari 10 sampai 20 persen dari berat badan anak anda untuk menghindari rasa sakit atau cedera potensial," kata Jacobs. "Kami merekomendasikan 10 persen." (Rekomendasi Danoff ini-tidak lebih dari 15 persen-sejalan dengan Jacobs.)

Untuk anak sekolah dasar yang beratnya hanya 50 atau 60 pound, beberapa buku pelajaran dan makan siang bisa melampaui batas aman. Untuk itu, Jacobs mengatakan penting untuk memeriksa ransel anak Anda setiap hari untuk memastikan dia hanya membawa apa yang dia butuhkan.

Sudahkah anda memeriksa tas anak anda hari ini?




Sumber : aceh.tribunnews.com

Senin, 31 Agustus 2015

Bunda Tolong Baca, Bayi 1 Bulan Meninggal karena Diberi Makan Pisang


Dunia Wanita - Bayi sebaiknya hanya mengonsumsi ASI pada enam bulan pertama hidupnya. Setelah enam bulan, dia dapat mengonsumsi makanan pendamping ASI atau disebut MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu).

Namun pemberian MPASI harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Banyak orang memberikan makanan padat pada bayi bahkan saat bayi masih berusia kurang dari empat bulan.

Padahal sebaiknya makanan padat mulai diberikan saat usia bayi telah mencapai enam bulan. Pada usia setengah tahun ke atas, makanan berperan sebagai pendamping ASI atau disebut MPASI.

Sebaiknya hindari memberikan makanan padat atau minuman selain ASI sebelum bayi berusia enam bulan. Pada usia ini, bayi lebih berisiko mengalami alergi, terutama pada makanan seperti kacang, telur, ikan, susu sapi, keju, maupun makanan yang mengandung gluten seperti roti.

Untuk para bunda, ada baiknya membaca kasus di bawah ini, curhatan seorang ibu yang kehilangan bayinya karena mengasih makan bayinya terlalu cepat.

Jadilah ibu yang cerdas yang tak termakan sesuatu yang sekedar mitos atau yang berlangsung turun temurun. Dan pengaruh buruk MPASI dini tidak hanya terlihat secara jangka pendek,  bisa jadi jangka panjang seperti munculnya maag akut saat menjelang  remaja, dsb.

Jadi jangan pernah katakan “Anak saya baik-baik saja..”. Dan korban MPASI dini masih akan terus bertambah selama para ibu belum membuka mata dan hati terhadap bahayanya.

Berikut ini kisah seorang ibu yang menuliskan di akun sosial medianya:



Untuk para bunda, jadikanlah ini pelajaran yang sangat berarti bagi kita semua, jangan sampai si buah hati hilang begitu saja dikarenakan ego kita.

Nah, jadi apakah MPASI itu tidak boleh? Boleh saja, tapi jangan terlalu dini yang bisa menyebabkan buah hati kamu meninggal.

Terus, cara MPASI yang benar bagaimana dong? Silahkan konsultasi ke dokter spesialis anak atau bisa cari referensi di Internet. Artikel ini hanya bertujuan untuk mengingatkan para bunda agar lebih berhati-hati.

Silahkan SHARE artikel ini, supaya para bunda lebih waspada saat menjaga dan memberi makan si buah hati....



Sumber : sebarkanlah.com

Sabtu, 29 Agustus 2015

HINDARKAN!! Jangan Guncang Tubuh Bayi Anda


Dunia Wanita - Ada orangtua yang mengasuh anak bayinya dengan cara melempar-lemparkan ke udara lalu menangkapnya untuk mendengar sang bayi tertawa. Atau mengguncang-guncangkan tubuh dan  bahunya keras sambil berekspresi gemas.

Atau pernah melihat orangtua yang melempar-lemparkan Balitanya ke udara lalu menangkapnya untuk mendengar sang Balita tertawa? Atau mengguncang-guncang bahunya keras sambil berekspresi lucu?Jika Bunda melakukan demikian, maka BERHENTILAH segera. Dan jika melihat orang lain berbuat begitu pada bayi mereka, cegahlah, karena sangat berbahaya bagi tubuh bayi.

Tahukah Bunda? Beberapa tahun yang lalu nih sobat, ahli kedokteran mengidentifikasi satu jenis penyakit yang serius pada bayi, namanya Sindrom Kematian Mendadak Salah satu pemicunya ini adalah guncangan pada tubuh bayi. Sangat mengejutkan kan Bunda...




Di Jerman, rata-rata sekitar 100 bayi setiap tahun mengalami kerusakan parah di otak karena mereka diguncang-guncang pengasuhnya. Laporan mengenai angka tersebut berdasarkan sensus dari unit penyakit langka anak-anak di Jerman. Asosiasi Dokter Anak di Jerman memperkirakan angka bayi yang mengalami trauma akibat diguncang-guncang, sebenarnya lebih tinggi lagi.

“Guncangan keras selama lima detik saja sudah cukup untuk merusak fungsi-fungsi otak,” kata profesor Hans-Juergen Nentwich, anggota dewan direktur asosiasi tersebut.”

Mengapa guncangan pada bayi bisa bermuara pada kematian?

Menurut ahli kedokteran tadi, ini dikarenakan bayi yang masih sangat muda belum bisa menahan kepalanya sendiri lantaran otot lehernya yang lemah. Akibatnya, jika bayi terguncang badannya, kepalanya akan bergoyang ke depan dan belakang.

Goyangan ini yang mengakibatkan kerusakan otak serta pendarahan di dalam otak dan pada permukaan otak, sehingga dapat menimbulkan masalah serius pada otak sang bayi, dan dapat mengakibatkan masalah yang berlangsung permanen, seperti :
  1. Kerusakan otak
  2. Cerebral palsy
  3. Kebutaan
  4. Epilepsi
  5. Kesulitan berbicara
  6. Kesulitan belajar
  7. Kesulitan koordinasi
  8. Serangan jantung
  9. Keterbelakangan mental

Berikut adalah beberapa hal yang harus dihindari beserta tips pencegahan:
  • Jangan pernah mengguncang tubuh bayi di bawah umur 3 tahun, dengan alasan apapun juga.
  • Saat Anda menggendong bayi anda, jangan lupa untuk selalu menyangga kepala bayi anda dengan tangan.
  • Beritahukan pentingnya melindungi kepala bayi Anda kepada pengasuh bayi anda.
  • Pastikan semua orang yang dekat dan sering menggendong bayi anda tahu benar bahayanya seorang bayi jika diguncang-guncang atau digoyang.

Pada beberapa orang anak bahkan dapat menimbulkan kematian. Ini dikenal dengan shaken-baby-syndrome. Kenapa berbahaya?


Bayi memiliki kepala lebih besar dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, dan otot lehernya masih lemah. Jika diguncang, kepalanya akan tersentak ke depan dan ke belakang. Hentakan-hentakan itu akan mengguncang otak dan merusaknya. Pembuluh darah kecilnya akan ikut rusak, menimbulkan pendarahan di otak dan sekitarnya, dan juga di mata bayi.

Resiko terbesar adalah pada bayi dibawah satu tahun, tapi tidak menutup kemungkinan dapat terjadi di usia yang lebih besar. Yang harus diwaspadai adalah guncangan-guncangan ini dapat terjadi justru ketika kita asyik bermain dengan sang bayi.

Karenanya ada beberapa permainan dan aktivitas yang harus dihindari untuk mencegahnya, antara lain :

  1. Melempar bayi ke udara.
  2. Lari-lari sambil membawa bayi di punggung atau di kepala.
  3. Kuda-kudaan (bayi naik ke punggung, naik ke kaki dan digoyang-goyang).
  4. Memutar bayi.

Jangan lupa mengingatkan orang-orang di sekitar ya Bunda, share informasi ini agar terbaca oleh saudara, pengasuh, kakek-neneknya, juga tetangga untuk tidak mengguncang bayi.

Jumat, 28 Agustus 2015

BUNDA, JANGAN BIASAKAN Bayi Anda Minum Susu Sambil Tidur!


Dunia Wanita - Beberapa ibu memberikan susu dalam botol pada anaknya untuk membuatnya nyaman tertidur. Sebaiknya bunda tidak melakukan kebiasaan pemberian susu botol sambil tidur pada anak. Salah satu pendapat ahli mengatakan bahwa pemberian susu sambil tidur akan mengakibatkan air susu menggenang di gigi dan mengakibatkan gangguan kesehatan gigi. Hal ini berhubungan dengan bakteri yang terdapat di dalam mulut balita yang akan mengubah kandungan gula yang terdapat pada susu menjadi senyawa yang bersifat asam dan merusak enamel pada gigi anak bunda.

Bagi bunda yang sering memberikan susu botol sambil tidur maka kesehatan gigi anak bunda akan mengalami kerusakan. Salah satu kerusakan gigi yang sering kali terjadi pada balita yang diberikan susu botol sambil tidur adalah empat gigi depan atau gigi susu. Hal ini berhubungan dengan gigi depan yang berperan dalam menahan dot botol. Selain akan menggangu kesehatan gigi pada balita, memberikan susu botol sambil tidur pada balita akan mengakibatkan infeksi telinga balita.

Pada awalnya disebabkan karena pemilihan dot balita yang kurang tepat apabila dot balita mengeluarkan cairan susu meskipun balita bunda berhenti menghisap maka akan mengakibatkan cairan memenuhi rongga pada telinga di bagian tengah. Terkumpulnya cairan pada telinga tengah balita akan mengakibatkan munculnya infeksi bakteri dan juga cairan yang terkumpul di bagian belakang gendang telinga akan memicu timbulnya gangguan pada pendengaran anak bunda.

Dalam mengatasi kebiasaan meminum susu sambil tidur pada balita bunda sebaiknya lakukan beberapa kebiasaan agar balita meninggalkan kebiasaanya tanpa terpaksa :

1. MENGGENDONG BALITA SAAT TIDUR DALAM PEMBERIAN SUSU BOTOL

Pada balita dibawah enam bulan sebaiknya bunda menggendong dan peluk balita bunda ketika diberikan susu botol. Hal ini agar posisi kepala balita lebih tinggi dari perut dan memperkecil resiko tersendak pada balita. Apabila bunda mendapatkan susu telah habis sedangkan balita masih nyaman menghisap dot sebaiknya bunda melepaskan botol secara perlahan. Bunda dapat melakukan dengan cara menyelipkan kelingking bunda ke dalam mulut balita dengan perlahan.

2. MEMBERIKAN SUSU SEBELUM WAKTU TIDUR

Bunda dapat membiasakan kebiasaan meminum susu pada balita bunda sebelum waktu tidur. Bunda dapat mencoba memberikan botol susu sebelum tidur dan melepaskannya botol susu ketika anak bunda tertidur. Sebaiknya pada balita yang berusia enam bulan atau lebih, air susu diganti dengan air putih biasa. Hal ini akan mengurangi resiko kerusakan gigi pada balita yang diakibatkan oleh kandungan gula yang tinggi.

3. MEMBERIKAN AIR PUTIH

Bagi balita bunda yang telah berusia diatas enam bulan, bunda dapat memberikan air putih ke dalam botol balita bunda untuk membersihkan gigi anak bunda. Adapun cara yang dapat bunda lakukan adalah dengan cara memberikan air susu ke dalam botol susunya kemudian setelah habis dan anak bunda memintanya kembali bunda dapat mengisi botol susu dengan air putih untuk membersihkan gigi anak bunda.

4. MERAWAT GIGI ANAK BUNDA

Tidak cukup dengan menjadwalkan pemberian susu botol sebelum balita bunda tertidur. Pada balita yang baru tumbuh gigi bunda dapat merawat dengan cara membersihkan giginya dengan kain handuk yang lembut atau kain kasa. Sedangkan pada balita yang sudah mulai tumbuh gigi bunda dapat membiasakan untuk merawat kesehatan gigi anak bunda. Bunda juga harus membiasakan balita bunda untuk merawat gigi balita dengan menggosok gigi secara teratur.



LIKE & SHARE YA BUNDA SEMOGA BERMANFAAT….



Sumber : facebook

Jika Bayi Anda Selalu Menangis Ketika Hendak Diberikan ASI, Mungkin Ini Penyebabnya!


Dunia Wanita - Pernahkah Bunda mengalami kejadian ketika setiap kali Bunda hendak memberikan ASI kepada bayi Bunda, si bayi ternyata tidak dapat menyusu dengan sempurna, dan menyebabkannya sering menangis? Padahal produksi ASI Bunda normal. Dan anak-anak Bunda sebelumnya selalu bisa ASI tanpa halangan.

Jika pernah, Bunda pasti merasa sedih dan bingung saat itu. Dan karena sayang dan khawatir akan perkembangan bayi, Bunda pasti langsung memilih alternatif dengan cara memberikan minum susu formula, benar kan Bunda?

Padahal sebenarnya tidak perlu tergesa-gesa memutuskan untuk beralih ke susu formula. Karena bisa jadi, bayi Anda mengalami masalah Tongue-tie. Coba Bunda cek terlebih dahulu, bisa secara personal ataupun konsultasi ke dokter.

Namun, untuk informasi awal apa itu Tongue-tie dan bagaimana gejala/tanda-tandanya? Cek ini ya Bunda ...

Apa itu Tongue-tie?

Tongue-tie (ankyloglossia) adalah suatu kondisi dimana dasar lidah melekat pada dasar mulut melalui frenulum (tali lidah) yang tebal, kencang, atau pendek yang menyebabkan gerakan lidah menjadi sangat terbatas. Tongue-tie sering kita kenal sebagai tali lidah pendek, meskipun istilah tersebut kurang tepat. Tounge-tie memiliki bentuk dan derajat yang bervariasi. Frenulum adalah suatu lipatan mukosa yang menghubungkan bagian bawah lidah dan dasar mulut. Anatomi frenulum juga sangat bervariasi. Pada tongue tie, frenulum biasanya tebal, kencang, atau pendek dan bisa menempel hingga ujung lidah. 



Bagaimana Gejalanya?

Meskipun Tongue-tie dikatakan tidak mendatangkan masalah untuk makan atau bicara, tetapi beberapa bayi akan memiliki masalah dengan menyusui karena mereka tidak akan dapat untuk menggunakan lidah untuk mengisap ASI dengan sempurna sehingga tidak akan mendapatkan ASI yang cukup.
 
Sebaliknya, Bunda mungkin akan menghadapi beberapa masalah seperti puting lecet, bahkan berdarah akibat mulut bayi yang menempel pada puting dan "mengunyah" puting Bunda. Gejala Tongue-tie pada bayi adalah :
  1. Bayi sulit / gagal membuka mulut sehingga sulit untuk menghisap puting.
  2. Bayi bisa menjadi kembung atau cepat "kenyang" karena banyak menghirup udara daripada menghisap ASI. 
  3. Bayi akan mengeluarkan suara saat menyusu.
  4. Susu keluar dari mulut saat sedang menyusu karena bayi tidak mengunci payudara dengan bibirnya.
  5. Tersedak, batuk bahkan ada saatnya muntah ketika menyusu karena kesulitan bayi memasukkan puting Bunda mengarah ke tenggorokannya.
  6. Berat badan bayi cacat / tidak bertambah (lambat). 
 

    Diagnosis dan Pengobatan

Biasanya Tongue-tie dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan rutin medis bayi dalam 24 jam pertama setelah kelahirannya. Dokter anak akan menempatkan jari di dalam mulut bayi untuk memeriksa langit-langit dan lidahnya. Dari segi perawatan, dalam beberapa kasus, masalah ini bisa pulih sendiri menjelang akhir tahun pertama usia bayi.

Namun, jika bayi masih memiliki masalah setelah periode tersebut, dokter anak dapat mempertimbangkan metode pembedahan.Pembedahan juga mungkin dilakukan jika anak memiliki masalah bicara atau tidak merespon terhadap pengobatan terapi wicara.

Dalam satu penelitian yang dilakukan ahli bedah pediatrik menunjukkan operasi pembagian frenulum berhasil memungkinkan sekitar 60 persen bayi menyusu dengan sukses untuk setidaknya tiga bulan setelah operasi.


********************

Nah Bunda, semoga informasi di atas menambah wawasan Bunda ya. Semoga Bunda dapat selalu memberikan ASI kepada bayinya hingga batas maksimum, atau sekurang-kurangnya berhasil memberikan ASI eksklusif.







Sumber  :  sdkeluarga [dot] karangkraf [dot] com

Selasa, 25 Agustus 2015

Efek Buruk Kebiasaan Berteriak dan Membentak Anak


Dunia Wanita - Kebiasaan berbicara dengan nada tinggi ternyata bisa memberikan pengaruh secara fisik dan psikis pada anak. Memang bukan hal mudah menjadi orang tua dan membesarkan anak-anak. Setiap hari tentu ada saja kelakuan si kecil yang kerap membuat orang tua marah hingga frustasi dan membuat mereka memiliki kebiasan berbicara dengan nada tinggi seperti berteriak dan membentak.

Dua kebiasaan tersebut ternyata berbahaya dan dapat membawa pengaruh kurang baik bagi tumbuh kembang anak dalam jangka panjang. Mengutip laman Boldsky, berikut beberapa alasan yang menjadikan berteriak dan membentak tidak baik untuk anak....

Perkembangan Emosional
Anak membutuhkan dorongan positif dalam hidup, maka berilah kesempatan untuk mengeksplorasi dan mencoba hal-hal baru di sekitarnya. Kebiasaan berteriak dan membentak hanya membuat mereka merasa tertekan secara emosional.

Faktor Keselamatan
Berbicara dengan nada tinggi mungkin bermaksud untuk memberikan keselamatan bagi anak. Nyatanya hal tersebut justru menjadi pengalaman yang menakutkan dan dapat mengancam keselamatan mereka.

Gangguan Pendengaran
Agar bisa menjadi pendengar yang baik, anak tentu harus tumbuh di lingkungan yang membuatnya berpikir positif. Saat orang tua berbicara dengan nada tinggi terus menerus membuat mereka terganggu dan mengalami gangguan pendengaran.

Tingkat Kepercayaan Menurun
Orang tua kerap dijadikan panutan bagi anak, sehingga tanpa disadari kebiasaan Anda akan ditiru oleh mereka termasuk kebiasaan berbicara dengan nada tinggi. Hal ini tentu dapat mempertaruhkan harga diri mereka saat berada di tengah lingkungan pertemanan.

Masalah Perilaku
Anak yang kerap ditempa dengan kebiasaan berbicara bernada tinggi membuat mereka memiliki perilaku kurang baik dan anti-sosial. Anak juga menjadi lebih arogan dan keras kepala saat berada di lingkungan pertemanan.


MARI Bunda, kita kurangi kebiasaan kita membentak dan memarahi buah hati kita agar tumbuh kembangnya sesuai dengan yang kita harapkan. Semoga bermanfaat...



Sumber : facebook family guide

Sabtu, 22 Agustus 2015

STOP Berteriak!! Gunakan The Power of BERBISIK kepada Anak..


Dunia Wanita - MARI BERHENTI TERIAK DAN MEMBENTAK ANAK dan gunakan The Power of “BERBISIK”

Allo ayah Edy namaku Lilian (bukan nama sesungguhnya) mami dari dua anak, anakku yg pertama, Bella (bukan nama sesungguhnya) sudah hampir 5 tahun, duh nakalnya minta ampun, hampir setiap hari aku harus teriak2 marahin.. aku jadi sering snewen sendiri tapi kadang2 aku jg suka merasa kasihan, apa gak ada cara lain selain marah dan teriak untuk buat dia nurut. Habis ia baru mau mendengarkan kalo aku sudah teriak dengan suara keras… Duh gimana ya... please ayah… help me… stress juga ya ngurus anak, ternyata lebih gampang urus kerjaan di kantor rasanya.

Bu Lilian yg baik,
Rasanya memang mengurus pekerjaan di kantor lebih mudah dari pada mengurus anak, ucapan ini sudah sering sekali saya dengar dari banyak orang tua. Tentu saja ini terjadi jika kita tidak mau belajar bagaimana menjadi orang tua yg baik, mengapa perlu belajar karena jelas sekali, jika kita ingin jadi Dokter ada sekolahnya, ingin jadi Pilot juga ada sekolahnya tapi jadi orang tua belum ada sekolahnya, lantas dari mana kita bisa belajar mengelola anak kita secara benar..? Padahal anak-anak kita sejatinya adalah Mahakarya dari Tuhannya. Jadi melalui fan page ini saya mengajak para orang tua di tanah air untuk menjadikan Komunitas Ayah Edy sebagai alternatif pengganti sekolahnya para orang tua.

Hal yg ibu Lilian alami sebenarnya sering juga di alami oleh ibu-ibu lainnya, hal ini terjadi karena pamahaman kita yang sangat minim tentang berbagai macam tipe anak. Pada dasarnya setiap anak terlahir unik tidak pernah ada yg sama dan memiliki tipe dan ciri masing-masing. Sekilas saya melihat bahwa mungkin Bella adalah tipe anak yang aktif, kreatif, suka bergerak, dan bicara. Itulah mengapa ia sering sulit mendengar ucapan orang tuanya pada saat ia sedang bergerak. Sebenarnya Bella sama sekali tidak bermaksud untuk membuat orang tuanya kesal apalagi marah, apa yang ia lakukan semata adalah untuk mengembangkan sistem syarafnya terutama sistem syaraf motoriknya agar kelak berkembang sempurna saat ia tumbuh besar.

Kesalahan yang paling sering dilakukan oleh para orang tua dalam mendidik anaknya adalah mengabaikan faktor-faktor penting dalam teknik berkomunikasi sehingga akhirnya seolah-olah anaknya seperti anak nakal yang tidak mau mendengar orang tuanya. Nah apa saja faktor-faktor tersebut:
  1. Faktor berkomunikasi berhadapan empat mata tanpa masing-masing melakukan aktivitas lainnya, seperti bicara sambil berkomputer ria atau bicara sambil anaknya bermain. Stop semua aktivitas apapun saat kita hendak bicara dengan anak.
  2. Faktor membuat kesepakatan bersama, membuat aturan main yang jelas beserta konsekuensinya.
  3. Faktor menggunakan suara datar serta bahasa yg mudah dimengerti anak, tanpa disertai bentakan atau teriakan.
  4. Faktor mengingatkan anak dengan menggunakan “Bisikan”

Nah untuk lebih jelasnya berikut kami jelaskan teknik penerapannya yang mungkin bisa ibu kembangkan sesuai situasi dan kondisi yg ibu hadapi:

#1. Pada saat ibu ingin bicara maka segeralah memintanya untuk berhenti bergerak dengan cara memegang kedua tangannya, kemudian memintanya untuk duduk/berdiri sejenak dan menghadapkan wajah pada kita sehingga perhatiannya terpusat pada kita.

#2. Setelah dia berhenti bergerak, katakan padanya “perhatikan sebentar, Mami mau bicara 2 menit saja, dengarkan baik-baik ya...” sambil tetap pegang kedua tangannya.

#3. Bicaralah pelan-pelan tapi jelas maksudnya, apa yg anda inginkan bukan apa yg anda tidak inginkan “misalnya mama ingin kamu berhenti bermain remote tv mulai sekarang dan seterusnya !” penting untuk mengatakan kapan waktunya dimulai dan hingga kapan.

#4. Tanyakan apakah ia mengerti apa yang anda katakan. Pastikan ia mengangguk atau mengatakan ya atau mengerti. Jauh lebih baik jika ia kita minta mengulang pesan yang kita sampaikan. Misalnya: “Coba kamu ulangi apa permintaan mami tadi” sambil kita bimbing.. “Mami ingin Bella berhenti bermain...dst”. Pujilah dengan mengatakan “Bagus Sekali”.

#5. Jelaskan padanya aturan main konsekuensi jika ia melanggarnya, mis: “Jika kamu mainkan lagi maka kamu tidak boleh menonton film kesukaanmu hari ini,” atau apapun yang menurut ibu layak untuk sepakati.
#6. Usahakan jika terjadi pelanggaran pertama anda tidak teriak malainkan datang kepadanya, pegang tangannya dan gunakan “The Power of Berbisik”. isi bisikannya bukan berupa ancaman melainkan mengingatkannya akan kesepakatan yg sudah kita buat. Mis. “Sssstttt... Bella sini dech mami bisikin”, “Bella sayang apakah kamu masing ingin nonton film kesukaan mu hari ini?” “Mami ingatkan Bella agar Bella nanti malam tetap bisa nonton film lho.”

#7. Jika terjadi pelanggaran terus maka tidak perlu banyak bicara, laksanakan tindakan, amankan TVnya atau bagaimana caranya agar ia tidak nonton TV malam ini dan pastikan agar ia juga mengetahui bahwa maminya adalah orang yg tegas dan konsisten.

Saya selalu menerapkan aturan main yg jelas, membahas dan membuat kesepakatan bersama anak, lalu setelah itu hanya tinggal mengingatkannya dengan cara “BERBISIK”. Dan sejauh ini The Power of Berbisik betul-betul bekerja dengan baik untuk bisa mengelola prilaku anak saya. Saya saat ini jauh lebih jarang menggunakan teriakan melainkan lebih sering menggunakan bisikan.

Teknik ini juga sangat ampuh apa bila anak kita berusaha membuat ulah di tempat-tempat umum. Selamat mencoba berbisik dan berhenti berteriak...

Silahkan SHARE pada siapa saja jika dirasa berguna dan bermanfaat...




Sumber : Komunitas Ayah Edy

Minggu, 16 Agustus 2015

UNTUK PARA IBU YANG KELELAHAN...


Dunia Wanita - Tadi malam, anak 4 tahun saya memutuskan untuk tidur di samping saya .

Dia tidur dengan menakjubkan .

Saya tidak tidur . Tidur dengan anak berumur 4 tahun adalah seperti tidur di samping jarum jam . Ketika malam semakin larut , saya pasti menemukan kaki di wajahku kemudian tangan dan kemudian kembali ke kaki .

Saya terbangun dengan lelah . Lebih dari lelah. Saya terbangun bertanya-tanya mengapa saya tidak punya sebuah mesin kopi dengan cangkir di bawahnya, menaruh itu di kamar dan yang harus saya lakukan hanyalah menekan tombol untuk minum.

Dia bangun dengan bahagia.

"Aku mencintaimu, Bu."

Dia tidak tahu bagaimana lelahnya saya atau bagaimana sakitnya punggung saya atau bagaimana saya benar-benar hanya ingin tidur selama lima menit lagi - ia hanya bersyukur melihat saya .

Dan Anda ?

Apakah Anda seorang ibu yang lelah ?

Apakah Anda bangun dan berharap ada lebih banyak jam dalam satu hari? Apakah Anda mendorong diri Anda melewati batas-batas yang anda punya? Bekerja ? Membersihkan ? Mengasuh ? Ingin tahu ? Berurusan dengan anak-anak yang berebut giliran untuk bermain Club Penguin di komputer ? ( atau mungkin itu hanya saya? ) Apakah Anda selalu bertanya-tanya apakah apa yang Anda lakukan setiap hari membuat perbedaan ? Apakah Anda lelah dari rutinitas yang sama ?

Kadang-kadang menjadi seorang ibu artinya adalah menjadi lelah.

Kadang-kadang menjadi seorang ibu berarti merasa sedikit kesepian . Seperti tidak ada orang lain memperhatikan apa yang kita lakukan . Pada akhirnya, tidak ada yang akan tahu bahwa saya hanya tidur selama 42,2 menit semalam, kecuali bahwa saya menulis tentang hal itu . Nah ,barista-barista di Starbucks mungkin tahu ketika saya datang dan meminta macchiato venti karamel .

Menjadi ibu sering kali adalah memberikan seluruh diri kita dalam rumah dan tidak ada seorangpun yang melihat . Kita bekerja . Kita membuat makaroni keju dan lupa untuk mengangkat mie yang kita masak dan sehingga jadi lembek .
Kita mengambil mainan kecil di halaman belakang lagi dan lagi dan bertanya-tanya mengapa kita memiliki begitu banyak mainan plastik . Kita melipat handuk compang-camping , kaus kaki pertandingan ,menelpon dokter , mencuci tembok yang memiliki bekas tapak tangan anak-anak , mencuci wajah yang lengket , Membersihkan dapur , kita pergi bekerja , pulang kerja , kita bekerja di rumah , kita adalah ibu sepanjang hari, kita melakukan apa yang masing-masing kita ceritakan , dan kemudian kita pergi tidur .

Ya , kita bisa berpendapat bahwa menjadi ibu memang seperti itu. Dan selamanya memang menjadi ibu adalah seperti itu .

Ya . Sejak awal ibu memang biasa harus bangun , harus berurusan dengan masalah-masalah anak , masalah uang , masalah pendidikan , masalah kesehatan , dan sebagainya .

Tapi , hanya karena sesuatu itu sudah biasa kami lakukan, tidak berarti hal itu tidak perlu dirayakan dan dihormati .
Ibu , orang tua , mereka melakukan hal-hal menakjubkan . Hal-hal yang sangat keras . Hal-hal yang tidak tampak sepertinya melewati batas-batas kemampuan kita , tetapi sebenarnya jauh lebih dari itu. Hal-hal yang memberi kita sukacita yang besar dan menghadirkan senyum di wajah kita dan satu jam kemudian telah membuat kita bertanya-tanya mengapa bisa anak berusia 4 tahun membuat kita merasa ingin menarik semua rambut di kepala kita.

Anda tidak sendirian . Anda dengar saya ?

Anda. Tidak. Sendirian.

Para ibu-ibu lain di prasekolah , di toko , di tempat kerja , di sekolah , di kelas , di kantor dokter , di mana pun Anda mungkin berada , juga kemungkinan bahwa mereka mungkin merasa lelah juga . Bertanya-tanya tentang semua hal ini .
Namun , masih memberikan diri bagi anak-anak yang Anda cintai .
Jadi hari ini , hari ini , saya berdiri dan memberi hormat kepada Anda yang lelah , namun menakjubkan , para ibu .
Anda , ibu yang kekurangan tidur .
Anda , para ibu yang membutuhkan dorongan semangat.
Anda , para ibu yang bekerja dan bekerja dan bekerja untuk keluarganya dan rasanya seperti tidak ada yang memperhatikan .
Anda , ibu dengan tiga anak-anak di bawah 5 tahun yang tidak pernah mendapat istirahat .
Anda , para ibu dengan bayi yang tidak pernah tidur .
Anda , para ibu yang bergadang menunggu anak remaja anda untuk pulang ke rumah .
Anda , ibu . Murni dan sederhana . Anda , ibu .

Menjadi ibu adalah perjalanan para pemberani .
Adalah hal berani untuk membesarkan seseorang yang mandiri , mendorong batas-batas kemampuan , meluluhkan hati Anda di malam hari , mencintai mereka selamanya bahkan ketika mereka membuat Anda merasa sinting.

Itulah apa yang Anda lakukan . Bahkan pada hari-hari yang melelahkan .

Anda . Menakjubkan , berani , berdaya ,belum tidur tetapi berjuang mengagumkan , keren , ibu .

Dan siapa sih yang butuh tidur?



Sabtu, 15 Agustus 2015

Bayi yang Diberi Susu Formula Berisiko Alami Leukimia


Dunia Wanita - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan menyusui memiliki banyak sekali manfaat seperti meningkatkan kecerdasan pada anak dan remaja hingga rendahnya risiko penyakit kronis yang dialami saat dewasa. Dalam sebuah penelitian pada 2004, bayi yang diberikan susu formula bisa meningkatkan risiko infeksi saluran napas dan leukimia.

Seperti dicatat dalam makalah riset dan advokasi yang diprakarsai International baby Food Acion Network (IBFAN)- Asia sebagai bagian dari World Breasfeeding Costing Initiative bahwa menyusui selain memberikan manfaat kesehatan bagi ibu dan bayi juga ternyata bisa menghemat anggaran kesehatan untuk negara.

"Bayi yang minum susu formula memiliki risiko infeksi saluran napas bawah berat dan leukimia. Lebih dari 800.000 kematian bayi disebabkan oleh infeksi pada anak seperti pneumonia, diare dan sebagainya. Hal ini dihubungkan dengan pemberian susu formula parsial dan ekslusif," tulis laporan tersebut.

Sedihnya, walaupun risiko ini telah diketahui, namun peningkatan penggunaan susu formula terus meningkat. "Penjualan makanan bayi global diperkirakan meningkat sebanyak 37 persen (US $ 11,5 milyar) menjadi US $ 42,7 milyar dari 2008 hingga 2013.

WHO melaporkan, peningkatan angka kejadian diabetes, obesitas, kanker, leukimia, hipertensi dan penyakit.


So, bunda, masih merasa senang dan nyaman memberikan susu formula kepada bayi kita? Semoga bermanfaat informasinya ya bunda...


Sumber  :  health.liputan6.com

Jumat, 14 Agustus 2015

Menyusui TERNYATA Mengurangi Resiko Kanker Payudara dan Rahim


Dunia Wanita - Islam sangat fokus dalam hal-hal yang berkenaan dengan kesehatan ibu, anak, dan juga hak-hak ibu dan anak. Sehingga bagi ibu yang menolak menyusui anaknya padahal ia mampu, mendapat ancaman di dunia maupun akhirat yang begitu mengerikan.

Kemudian Malaikat itu mengajakku melanjutkan perjalanan, tiba-tiba aku melihat beberapa wanita yang payudaranya dicabik-cabik ular yang ganas. Aku bertanya: ‘Kenapa mereka?’ Malaikat itu menjawab: ‘Mereka adalah para wanita yang tidak mau menyusui anak-anaknya (tanpa alasan syar’i)”. (HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya 7491, Ibnu Khuzaimah 1986, dan Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih menyatakan: “Ini hadits shahih dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu.” Hadis ini juga dinilai shahih oleh Imam Al-Albani).

Di saat banyaknya wanita yang tidak mau menyusui anaknya karena takut bentuk tubuhnya memburuk, atau kekhawatiran lainnya, Islam justru menyuruh para ibu untuk menyusui anaknya, dan rupanya terkandung hikmah yang sangat besar di balik perintah menyusui ini.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (Al-Baqarah: 233).

Rupanya, menyusui anak memiliki manfaat mencegah kanker payudara dan juga rahim. Subhanallah!

Penelitian ilmiah menyebutkan bahwa wanita yang komitmen dengan masa menyusui yang telah ditetapkan Al-Qur’an akan terhindar dari pengaruh hormon estrogen yang berbahaya. Ini mengingat, kanker payudara terjadi disebabkan menumpuknya estrogen pada tubuh, sehingga memicu pembengkakan pada payudara dan pembusukan rahim. Dan menyusui merupakan sebuah proses hormonal yang terjadi salah satunya yaitu menekan kadar hormon estrogen.

Jelas bahwa menyusui bukan hanya baik untuk kesehatan dan kecerdasan bayi tapi juga kesehatan si ibu.

“Menyusui bukan hanya baik untuk bayi tapi juga si ibu,” kata ketua peneliti Dr. Alison M. Stuebe dari Universitas North Carolina, Chapel Hill, Amerika Serikat (AS). 

Kesimpulan studi ini diperoleh dari penelitian terhadap 60.075 perawat yang baru melahirkan dan berpartisipasi dalam studi Nurse’s Health Study yang berlangsung antara tahun 1997 dan 2005.

Pada akhir Juni 2005 diketahui ada 608 wanita (sekitar satu persen) yang menderita kanker payudara di usia sekitar 46 tahun. Selain itu para peneliti juga melaporkan, wanita yang keluarga dekatnya menderita kanker payudara, risikonya berkurang hingga 59 persen bila mereka menyusui bayinya.

Berdasarkan penelitian, bila seorang wanita tidak menyusui, jaringan di payudaranya akan kembali seperti pada saat sebelum hamil dan hal ini bisa menyebabkan terjadinya peradangan. Peradangan yang berlangsung sangat progresif diketahui berkaitan dengan kanker payudara.

“Hipotesa kami, wanita yang menyusui atau mengonsumsi obat penekan produksi ASI akan mencegah terjadinya peradangan,” tulis sebuah laporan yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Archieves of Internal Medicine (Kompas, 11/08/2009).

Secara general, menyusui sangat berguna bagi kesehatan. Di antaranya, dapat mengurangi perdarahan setelah persalinan, mempercepat pengecilan rahim, menunda masa subur, mengurangi anemia, mencegah kanker ovarium dan kanker payudara, serta menjaga ibu agar tetap langsing.

Sebuah laporan penelitian dalam Jurnal Obstetri dan Ginekologi yang dilakukan oleh sejumlah peneliti dari Center for Research on Health Care, University of Pittsburgh, melaporkan bahwa perempuan yang menyusui lebih dari 12 bulan bisa mengurangi risiko terkena penyakit jantung hingga 10 persen.

Penelitian ini melibatkan 140.000 perempuan menopause dengan rata-rata usia 63 tahun. Perempuan tersebut memberikan informasi mengenai pola makan dan sejarah menyusui, data BMI (body mass index/indeks massa tubuh) serta riwayat medis. Selama penelitian partisipan dikirimkan laporan medisnya dan waktu rata-rata penelitian ini adalah 8 tahun.

Semoga informasi ini bermanfaat....


Sumber  :  ummi-online.com

Sabtu, 01 Agustus 2015

TIPS Mengatasi Bayi Muntah

http://duniavvanita.blogspot.com/search/label/Ibu%20dan%20Anak

Dunia Wanita - Sistem imun tubuh yang belum terlalu kuat kadang membuat si kecil akan sangat rentan terkena penyakit yang datang dari sekelilingnya. Dan mungkin ibu muda akan sedikit merasa panik kalau si kecil tiba-tiba menunjukkan gejala yang membuat khawatir, seperti misalnya muntah.

Penyebab muntah ini bisa bermacam-macam, dan mungkin kita akan kesulitan kalau harus menebak-nebak penyebabnya, jadi lebih baik segera periksakan ke dokter kalau memang kondisinya sudah semakin parah. Nah, untuk memberikan penanganan yang cepat, Anda bisa melakukan beberapa TIPS berikut ini, seperti yang dilansir oleh laman vemale. com.

Berikan Asupan Cairan yang Cukup
Sahabat Dunia Wanita, ketika si kecil muntah, dia kehilangan banyak sekali cairan yang penting untuk tubuhnya. Oleh karena itu, kita harus mengganti cairan tersebut, sehingga dia tidak akan dehidrasi.

Nah untuk mengetahui cairan apa yang cocok untuk mengganti di saat darurat seperti ini, sebaiknya Anda konsultasikan ke dokter agar mendapatkan solusi terbaiknya.

Kembalikan Pada Rutinitas-nya
Ladies, kalau si baby sudah tidak muntah lagi selama 12 sampai dengan 24 jam, Anda bisa memberikan kembali makanannya seperti biasanya. Bersamaan dengan makanannya ini, Anda juga harus tetap memberikan asupan susu yang cukup seperti biasanya ya. Ini dilakukan agar cairan di dalam tubuhnya tetap terjaga.

Kalau si kecil sudah mulai makan makanan padat, mulai dengan makanan yang mudah untuk dicerna, seperti misalnya cereal atau yoghurt. Makanan yang masuk ke dalam tubuhnya ini akan memberikan dia energi kembali setelah ada banyak sekali makanan yang terbuang karena muntah.

Tidurkan si Kecil
Tidur ini akan membantu menenangkan si kecil ya, Ladies. Apalagi, dikatakan kalau proses tidur ini akan membantu mengosongkan perut dan akan membantu mengurangi perasaan ingin muntah pada bayi.

Ada banyak sekali cara menidurkan bayi, seperti Anda bisa menyanyikan lagu untuknya, mengajaknya ke tempat yang sejuk, membelainya, atau mengayunnya dengan perlahan. Nah, dengan begitu, si kecil akan merasa nyaman dan akan terlelap dengan sendirinya.

Ladies, yang perlu Anda ingat adalah dalam kondisi yang seperti ini, Anda sebaiknya tidak memberikan obat anti muntah kepada anak yang dijual di toko-toko secara bebas.

Ini justru akan membahayakan kesehatan buah hati Anda tercinta, kecuali kalau memang dokter Anda memberikan resep obat anti muntah ini. Baru Anda bisa dengan tenang memberikannya kepada si kecil karena sudah disarankan oleh dokter kepercayaan Anda.

Setelah muntah, Anda sebaiknya tetap menjaga si baby tetap di rumah. Kalau biasanya Anda menitipkannya di childcare, untuk sekarang ini sebaiknya Anda tetap menjaganya di rumah sampai paling tidak 48 jam setelah terakhir kali muntah.

TOLONG JANGAN BILANG ANAKKU "PINTAR"



Rosalia Surya Budi 

TOLONG JANGAN BILANG ANAKKU "PINTAR" 

(Fixed Mindset Vs Growth Mindset)
-> Ditulis oleh Arum Budiani

Emangnya kenapa? Kata pujian “anak pintar” itu bukannya sebuah tanda penghargaan ya buat si anak? Plus dobel fungsi jadi topik obrolan basa-basi di ruang tunggu dokter, bangku di toko mainan, dan sambil mengawasi anak-anak main di taman? Triple plus di acara arisan keluarga, saat semua ponakan/cucu/kakak-adik lagi berkumpul bersama.
Lalu, ada apa dengan label “pintar” itu?

Beberapa bulan yang lalu, saya diberikan kesempatan untuk bantu menterjemahkan artikel pendidikan untuk sebuah program sekolah. Di antara sekian banyak artikel, satu yang benar-benar membuat saya berhenti, membaca berulang-ulang, dan berpikir kembali adalah artikel mengenai fixed vs. growth mindset.

Kedua kubu tersebut merupakan bahasan penelitian berjangka yang dilakukan oleh Carol Dweck, yg dipublish dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006). Dweck meneliti efek jenis pujian yang diberikan ke anak-anak: satu kelompok dipuji “kepintarannya” (“You must be smart at this.”) dan kelompok yang lain dipuji atas usaha (effort) mereka (“You must have worked really hard.”) setelah setiap anak menyelesaikan serangkaian puzzle non-verbal secara individual.
Puzzle di ronde pertama memang dibuat sedemikian mudah sehingga setiap anak pasti bisa menyelesaikannya dengan baik.
Setelah dipuji, anak-anak tersebut diberikan pilihan jenis puzzle buat ronde kedua: satu puzzle yang lebih sulit daripada puzzle di ronde pertama, namun mereka akan belajar banyak dari mencoba menyelesaikan puzzle tsb; dan pilihan puzzle lainnya adalah puzzle yang mudah, serupa dengan yang di ronde pertama.
Dari kelompok anak-anak yang dipuji atas usaha mereka, 90% anak-anak memilih rangkaian puzzle yang lebih sulit.
Mereka yang dipuji atas kepintarannya sebagian besar memilih rangkaian puzzle yang mudah.

Lho, kenapa anak-anak yang dipuji “pintar” malah memilih puzzle yang mudah?? Menurut Dweck, sewaktu kita memuji anak karena kepintarannya, kita menyiratkan bahwa mereka harus selalu mempertahankan label “anak pintar” tsb,
sehingga nggak perlu ambil risiko yang menyebabkan mereka akan berbuat salah alias terlihat “tidak pintar” (“look smart, don’t risk making mistakes.”)

Dalam ronde tes berikutnya, anak-anak itu tidak mempunyai pilihan: mereka semua harus menyelesaikan rangkaian puzzle yang diberikan memang dibuat sulit, 2 tahun di atas usia anak-anak itu.
Seperti yang sudah diperkirakan, semua anak gagal menyelesaikannya.
Namun, kelompok anak-anak yang dari awal dipuji atas usaha mereka menganggap mereka kurang fokus dan kurang keras upayanya untuk menyelesaikannya.
Mereka menjadi sangat terlibat dan berusaha mencoba semua solusi yang dapat mereka pikirkan.
Tak banyak dari mereka yang berkomentar bahwa “tes ini adalah yang paling saya sukai”.. kok gitu? Sedangkan kelompok yang dipuji atas kepintarannya menganggap kegagalan mereka sebagai bukti bahwa mereka sebenarnya memang tidak pintar.
Tim peneliti mengamati bahwa anak-anak ini berkeringat dan tampak sangat terbebani selama mengerjakan tes.

Nah, setelah semua mengalami kegagalan, pada ronde tes terakhir, mereka diberikan tes yang dibuat semudah tes pada ronde pertama.
Kelompok yang dipuji atas usaha mereka mengalami peningkatan skor hingga 30%. Sedangkan anak-anak yang diberitahu bahwa mereka “anak pintar” malah menurun skornya hingga 20%.

Dweck sudah curiga bahwa jenis pujian akan memberikan dampak, namun dia tidak menyangka sejauh ini efeknya. Menurutnya, “penekanan pada usaha memberikan anak-anak variabel yang bisa mereka kendalikan, mereka akan menilai bahwa mereka sendirilah yang pegang kendali atas kesuksesan mereka.
Sedangkan penekanan pada kecerdasan alami justru mengambil kendali dari tangan anak dan menyebabkan cara berespons yang jelek terhadap sebuah kegagalan.”

Pada wawancara yang dilakukan setelahnya, Dweck menemukan bahwa mereka yang menganggap bahwa kecerdasan alami adalah kunci dari kesuksesan mulai mengecilkan pentingnya upaya yang diberikan.
Penalaran mereka adalah “aku kan anak pintar, aku tidak perlu susah-susah berusaha”. Ketika mereka diminta untuk berusaha lebih keras, mereka malah menganggap hal tersebut sebagai bukti bahwa mereka nggak sepintar anggapan mereka.
Efek jenis pujian ini terlihat pada penelitian yang dilakukan pada anak-anak pada kelas sosioekonomi yang berbeda-beda, baik pada laki-laki maupun perempuan, bahkan pada anak prasekolah juga menunjukkan adanya pengaruh.

Okay. Nafas dulu. Setidaknya, saya setelah baca hasil penelitiannya harus ambil nafas dan bercermin.
Anak sulungku sudah sering dipuji “pintar”, alhamdulillah.
Tapi memang pada beberapa kesempatan, dia enggan mencoba hal-hal baru (yang menurutnya susah) dan sempat mudah menyerah ketika mengalami hambatan, misalnya dalam upayanya membuat kreasi Lego sendiri (tanpa instruksi) atau saat dia latihan lagu piano yang lebih susah buat lomba.
Kalau menggambar bebas, masih suka frustrasi saat “salah” dan minta ganti kertas atau malah ganti kegiatan yang lain.
Oh my little boy, I’m so sorry. I didn’t know. Apalagi dia termasuk anak yang introvert dan lebih mudah cemas.
Nah, jelas kan kenapa penelitian ini sangat menohok buat saya.

Meskipun saya dulu pernah baca artikel yang menyebutkan kenapa lebih baik memuji upaya daripada hasil, namun saya baru kali ini membaca penelitian yang terkait.
Dan jadi sadar betul betapa besar efeknya jenis pujian yang kita berikan. Namun demikian, old habits die hard. Especially with the older generation.
Gimana caranya saya ngasih tau ke mertua kalau mau muji cucunya tersayang, jangan bilang kalau dia “pinter” melainkan harus memuji upaya kerasnya?
Padahal budaya kita sangat sarat dengan “label” pada anak-anak, dengan label “anak pintar” menjadi primadona segala label.
Belum lagi kebiasaan membandingkan anak satu dengan anak lainnya, cucu satu dengan cucu lainnya. Oh boy, pe-er nya banyak banget ini.

Okay , balik lagi ke konsep growth vs. fixed mindset , jadi intinya anak-anak yang dipuji atas upaya mereka akan memiliki growth mindset, bahwa otak itu adalah sebuah otot, yang makin “dilatih” maka akan semakin kuat dan terampil.
Dilatihnya ya dengan tantangan, masalah, dan kesalahan yang harus diperbaiki dan diambil hikmahnya.
Sedangkan anak-anak dengan fixed mindset menanggap pintar/tidak pintar itu sudah dari sananya dan nggak bisa diubah.
Jadi mereka cenderung menghindari hal-hal yang membuat mereka tidak terlihat pintar dan tidak menyukai tantangan, mementingkan hasil akhirnya.

Dweck memberikan beberapa perbedaan fixed vs. growth mindset dalam bukunya:

a. Fixed Mindset (FM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau sifat dan kepribadian mereka adalah permanen, dan kita sedang menilainya.
Growth Mindset (GM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau mereka adalah seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang, dan kita tertarik untuk melihat perkembangan mereka.

b. Nilai yg bagus akan diatribusikan pada “kamu emang anak yang pintar” pada FM. Sedangkan GM akan mengatakan “Nilai yg bagus! Kamu telah berusaha keras/menerapkan strategi yang tepat/berlatih dan belajar/tidak menyerah.”

c. Nilai yang jelek akan diartikan sebagai “kamu memang lemah pada bidang ini” dengan FM.
GM akan mengatakan “saya suka upaya yang telah kamu lakukan, tapi yuk kita kerjasama lebih banyak lagi untuk mencari tahu bagian mana yang kamu belum pahami”. “Kita semua punya kecepatan belajar yang berbeda, mungkin kamu butuh waktu yang lebih lama untuk mengerti ini tapi kalau kamu terus berusaha seperti ini, aku yakin kamu akan bisa mengerti.”
“Semua orang belajar dengan cara yang berbeda, ayo kita terus berusaha mencari cara yang lebih cocok untuk kamu.”

d. FM: “wah, kamu cepet banget menyelesaikannya, tanpa salah lagi!”
GM: “Ooops, ternyata itu terlalu mudah buat kamu ya. Saya minta maaf sudah membuang waktumu, ayo cari sesuatu yang bisa memberikan pelajaran baru buat kamu.”

e. FM mementingkan kecerdasan atau bakat dari lahir.
GM mementingkan proses belajar dan kegigihan berusaha (perseverance).

f. FM percaya kalau tes mengukur kemampuan.
GM percaya kalau tes mengukur penguasaan materi dan mengindikasikan area untuk pertumbuhan.

g. Guru dengan FM menjadi defensif mengenai kesalahan yang dia lakukan.
Guru dengan GM merenungkan kesalahannya secara terbuka dan mengajak bantuan dari anak-anak lagi supaya bisa menyelesaikan masalahnya.

h. Guru dengan FM memiliki semua jawaban.
Guru dengan GM menunjukkan ke anak-anak bagaimana dia mencari jawaban-jawaban tersebut.

i. Guru dengan FM menurunkan standar supaya anak-anak bisa merasa pintar. Guru dengan GM mempertahankan standar yang tinggi dan membantu setiap siswa untuk mencapainya.

Hosh-hosh, mulai kelihatan kan bedanya? Kami sudah mulai berusaha mengubah cara kami memuji anak-anak, tapi memang butuh waktu dan upaya ekstra untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama, apalagi dengan lingkungan teman-teman dan saudara dan orang-orang yang tidak dikenal yang SKSD.

Plus, kosa kata “you worked hard… ” itu kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia itu masih terdengar tidak umum plus panjang, “kamu udah bekerja/berupaya keras ya untuk….”--- masih lebih praktis bilang “anak pinter”, hehehe. Yah, namanya juga sudah membudaya. Belum lagi ada ucapan bahwa kata-kata adalah doa. Akupun sepakat dengan itu.

Jadi jangan salah sangka, bukannya nggak boleh memuji, tapi pujilah upaya mereka. Dan penelitian ini khusus berkenaan dengan persepsi terhadap kecerdasan ya, bukan label-label lain seperti sholeh/sholehah, rajin, empatik, penyayang, dsb.
Jadi pentingnya perubahan mindset dari fixed menjadi growth supaya anak-anak (dan kita sebagai orang tua juga) nggak terpaku hanya pada hasil.
Kalau menurut saya, terlalu terpakunya masyarakat kita pada hasil malah melahirkan upaya-upaya negatif untuk mencapai hasil yang “baik” di mata orang, terlepas caranya.
Makanya ada bocoran soal UN, contekan ulangan, lalu stress berlebihan atas sebuah kegagalan.
Kalau pada anak sulung saya, ya kelihatan pas dia ngambek nggak mau lanjut latihan sebuah lagu di piano karena “susah”, nggak mau nyoba gambar karena takut “jelek”, dan nggak mau nyoba bikin freestyle build dari Lego karena “susah”.

Buat saya, kalau ada yang mengatakan anak-anak “pintar”, maka saya akali dengan langsung menimpali secara halus plus senyum manis dengan komentar atas usahanya anak-anak.
Misalnya, tante A, “Wah Little Bug udah pinter main pianonya…”, lalu saya menimpali dengan “Alhamdulillah, Little Bug selama ini rajin latihan dan nggak nyerah kalau belum bisa.” Atau “Little Bug dah pinter ya bacanya” “lalu saya bilang “alhamdulillah, Little Bug tiap hari berusaha baca buku-buku baru dan kalau ada kata-kata yang susah, dia akan berusaha membacanya”.
Intinya, nggak pernah lupa untuk memuji usaha/prosesnya. Dan nggak lupa mendoktrin secara berulang tentang otak sebagai otot yang semakin kuat kalau dilatih dengan tantangan.

Intinya, menekankan bahwa "they are special just the way they are."
Bahwa kami bangga karena dia berusaha mencoba meskipun menantang, dan gak menyerah meskipun gagal. Hal-hal seperti itu yang suka tertutup oleh pujian “anak pintar”. Terlebih karena kami homeschool, jadi kelihatan banget gregetnya kalau anak belum bisa maupun kelihatan ketika dia sengaja menghindari sesuatu yang tampak “susah” atau “baru” buat dia, belum lagi kalau ngambek ketika gagal atau hasilnya “nggak perfect”.

Jadi ngeh juga, mungkin salah satu alasan kenapa anak-anak Jepang itu begitu rajin adalah karena sejak kecil, pujian setelah melakukan sesuatu umumnya adalah “yoku ganbatta ne” atau “kamu sudah banyak berusaha” dan “otsukaresamadeshita” (terima kasih atas kerja kerasnya), mau apapun hasilnya.

Kita bisa berusaha dan perlahan, insyaaAllah akan lebih positif kepribadian anak-anak kita. Daripada mengeluhkan, mendingan berusaha dan berdoa, semoga Allah bisa membentuk jiwa anak-anak dengan kelembutan-Nya sehingga kelak menjadi anak-anak sholeh/sholehah yang berani menghadapi tantangan demi menghasilkan kebaikan. Semoga artikel ini bisa memberikan sudut pandang yang berbeda buat kita semua.

Jumat, 31 Juli 2015

Meruginya Seorang Wanita yang Menolak Menjadi Ibu, karena Fakta-Fakta tentang Ibu Melahirkan Sungguh Mencengangkan


Dunia Wanita - Anak adalah anugerah dari Allah SWT. Setiap wanita yang sudah menikah pasti sangat menginginkan dirinya dipercaya Allah untuk di "titip" kan anugerah berupa anak dalam rahimnya. Namun, tidak sedikit pula wanita yang telah di "titip"kan anak kepadanya, malah menyia-nyiakan anaknya, bahkan hingga membunuh buah hatinya sendiri.

Padahal, di setiap kelahiran bayi dari rahim ibunya, terdapat fakta-fakta yang sangat luar biasa, menunjukkan kekuasaan Allah SWT. Apa saja itu?

Berikut 10 Fakta tentang Ibu Melahirkan :
  1. Hanya 5% bayi yang lahir pada tanggal EDD (Estimated Due Date) mereka. Kebanyakannya lahir antara minggu ke-37 dan 42 kehamilan.
  2. Ketika bersalin, rahim ibu akan mengembang 500 kali daripada ukuran normal untuk menampung kandungannya.
  3. Darah yang hilang ketika melalui proses kelahiran normal adalah 500ml.
  4. 80% wanita mengalami sindrom “Baby Blues” semasa 2 minggu pertama selepas persalinan disebabkan oleh perubahan hormon badan.
  5. Hanya 1 dari 10 wanita mengalami pecah air ketuban sebelum proses bersalin dimulai. Kebanyakan wanita hanya akan mengalaminya apabila mereka telah benar-benar siap untuk melahirkan bayi.
  6. Badan manusia hanya mampu menanggung kesakitan sampai 45 Del. Tetapi ketika bersalin ibu akan mengalami rasa sakit hingga 57 Del yang rasanya, menurut para ahli, sama dengan 20 tulang yang dipatahkan secara serentak.
  7. Apabila seorang ibu meninggal ketika bersalin, tercatatlah pahala jihad baginya.
  8. Apabila seorang ibu melahirkan anak, terhapuslah dosa-dosanya.
  9. Ibu bersalin akan mendapat pahala 70 tahun shalat dan puasa.
  10. Setiap kesakitan pada satu uratnya, Allah hadiahkannya pahala menunaikan haji.

A mother's love is like nothing else in this world

Sumber  : facebook Bagus Trii Setiawan 

Kamis, 30 Juli 2015

Anak Sebagai Ujian


Dunia Wanita - Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Dzat Yang Maha Menguasai langit dan bumi beserta segala apa yang ada di dalamnya. Tiada yang patut disembah selain Alloh, tiada yang bisa dimintai pertolongan kecuali Alloh. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, mudah-mudahan Alloh Swt. memberikan kita petunjuk dan kekuatan supaya kita bisa melalui setiap ujian dengan baik, karena hidup di dunia ini adalah rangkaian ujian demi ujian. Seperti anak yang akan naik kelas di sekolahnya, senantiasa akan dihadapkan dengan soal-soal ujian. Demikian pula kita dalam hidup ini. Setiap ujian yang kita hadapi hakikatnya adalah agar derajat kita naik di hadapan Alloh Swt.

Salah satu bentuk ujian dari Alloh itu adalah berupa anak atau keturunan. Jika dilihat dari satu dimensi, maka anak adalah karunia. Dilihat dari dimensi lain, anak merupakan amanah. Dan dilihat dari dimensi yang lain, anak merupakan ujian. Alloh Swt. berfirman, 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Alloh-lah pahala yang besar.” (QS. Al Anfaal [8] : 27-28)

Oleh karena itu, melihat anak seperti melihat soal ujian. Orang akan stress menghadapi soal ujian kalau dia tidak belajar, meski jawaban dari soal itu sebenarnya sangat mudah. Dan, yang namanya ujian tidak selalu berupa kesusahan. Punya anak yang sukses itu juga bentuk ujian. Tidak jarang ada orangtua yang ujub, takabur, sombong, gara-gara kesuksesan anaknya. Kemana-mana memamerkan prestasi anaknya. Pada banyak kesempatan memamerkan anaknya sembari merendahkan anak orang lain yang tidak sukses sebagaimana anaknya.

Anak sukses itu adalah ujian. Jangan sampai kita yang sudah diamanahi oleh Alloh menjadi orangtua, merasa ujub, takabur, sombong karena kesuksesan anak kita. Karena sesungguhnya anak sukses adalah karunia dari Alloh Swt. Bersikap tawadhu dan berserahdiri kepada Alloh ketika melihat kesuksesan anak, maka itulah orangtua yang sukses. Sedangkan jika kita ujub, takabur, sombong, maka sesungguhnya kita sedang gagal menyikapi ujian berupa anak.

Anak-anak bisa berprestasi di sekolahnya, tinggi nilai ujiannya, lulus dengan nilai yang mengagumkan, tiada lain adalah karena Alloh mengkaruniakan kepadanya otak dan akal pikiran, kesehatan, dan perlindungan.

Demikian halnya ketika anak tidak sesuai harapan. Mungkin prestasi di sekolahnya yang biasa saja, atau bahkan mungkin sempat tidak naik kelas. Kuliahnya berlarut-larut. Atau secara duniawi pekerjaannya biasa saja dibandingkan teman-temannya yang lain. Ini juga ujian bagi orangtua. Ada orangtua yang malu, minder dan berkeluh kesah melihat anaknya yang demikian. Sampai orangtua lupa bahwa surga tidak identik dengan gelar sarjana, dengan rangking pertama atau dengan jabatan mentereng di kantornya.

Bukankah banyak anak-anak yang hanya lulus SMA, atau kuliah tapi tidak sampai jadi sarjana, namun mereka justru akhirnya mampu menggaji para sarjana. Anak-anak seperti ini banyak jumlahnya.

Maka dari itu, bagi para orangtua hendaknya senantiasa rendah hati, penuh syukur dan tawakal kepada Alloh Swt. menghadapi bagaimanapun kondisi anak-anak kita. Tugas para orangtua adalah merawatnya, membimbingnya, dan mendidiknya sesuai dengan apa yang Rosululloh Saw. ajarkan. Yang terpenting dari anak kita adalah mereka menjadi orang-orang yang beriman kepada Alloh dan cinta kepada rosul-Nya. Inilah prestasi tertinggi bagi sang anak dan orangtuanya. Wallohua’lam bishowab.[]



Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.


Sumber  :  smstauhiid.com

Rabu, 29 Juli 2015

Mengobati Balita Anda yang Lagi Terserang Batuk Pilek Tanpa Obat Kimia? Ini caranya!!

Dunia Wanita - Pada anak balita di atas umur 6 bulan, terserang batuk pilek ringan yang terjadi karena infeksi virus merupakan hal yang biasa. Sistem imunitas tubuh si kecil memang masih belum bekerja secaraoptimal, dan juga asupan ASI bayi diatas 6 bulan sudah mulai berkurang saat mereka mulai makanan tambahan. Faktanya ASI merupakan faktor penting pemberi kekebalan tubuh pada bayi.


Sering muncul salah kaprah di tengah masyarakat kita, bahwa kalau si kecil sakit, harus segera diberi obat. Atau segera di bawa ke Dokter Spesialis Anak. Hal ini harus difahami dengan baik karena sebenarnya obat batuk pilek yang banyak beredar dipasaran tidak menghilangkan sumber penyakit. 

Obat-obat tersebut hanya meredakan tanda-tanda (simptom) dari penyakit bukan menghapus si virus penyebab penyakit. Para Dokter di Amerika pun tidak menyarankan memberikan obat batuk pilek pada balita dibawah 4 tahun.

Berikan cairan/minum yang banyak
Jika Balita Anda masih minum ASI, pastikan dia minum ASI yang banyak, karena di dalam ASI terdapat komponen yang dapat meningkatkan system kekebalan tubuh si kecil. Berikan air putih yang banyak, hindari pemberian jus buah dan jangan pernah memberi minuman bersoda karena dapat menimbulkan iritasi pada tenggorokanya yang sedang sakit.

Berikan Madu Jika Balita Anda sudah di atas satu tahun
Bayi dibawah satu tahun tidak direkomendasikan untuk diberikan madu. Madu memang bagus untuk perkembangan tubuh tapi biasanya penanganan madu pada tahap produsi madu tersebut tidak dijamin steril, sehingga berisiko diberikan kepada bayi dibawah satu tahun. Tim atau kukus terlebihdahulu madu selama 15-20 menit sebelum diberikan, jika Bunda tetap ingin memberikan madu pada bayi yang berusia dibawah satu tahun.

Hangatkan tubuh si kecil menggunakan minyak telon atau kayuputih
Untuk menambah kenyamanan bernafas, tidurkan si kecil dengan bantal kepala yang lebih tinggi. Untuk mengurangi kekentalan lendir pada hidung, bunda dapat meneteskan larutan saline (garam steril) yang dapat diperoleh di apotek terdekat.

Untuk balita diatas 2 tahun, bunda dapat meringankan flu mereka dengan memberikan sup kaldu hangat, atau teh jahe dengan madu 
Beberapa terapis herbal merekomendasikan campuran antara jeruk nipis dan madu untuk meringankan batuk sikecil. Campurkan air jeruk dan madu dengan perbandingan 1:1 berikan 1 sendok teh, 3 kali sehari setelah makan.

ASK          :  "Lalu, Apakah Tidak Perlu ke Dokter Anak?"
ANSWER :   "Tentu Perlu, Jika Sudah Diperlukan. Kapan harus menemui dokter?"

Jika batuk pilek tidak membaik dalam waktu dua pekan atau batuk menjadi sangat parah sehingga mengganggu pola makan dan tidur si kecil, apalagi disertai muntah dan demam tinggi, Ayah bunda perlu was-was, segera temui dokter untuk berkonsultasi. Ciri lain yang harus diwaspadai diantaranya adalah: Batuk yang disertai lendir atau dahak yang berwarna hijau, kuning, coklat, atau ada bercak darah pada lendirnya, dan bayi atau balita tidak mau makan dan kehilangan berat badan.






Sumber : 123caranya[dot]blogspot[dot]com